
Image generated by AI
“Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things.”
— Peter F. Drucker
Sebuah Pengalaman di Stasiun
Seperti biasa, sambil menunggu waktu keberangkatan kereta di sebuah stasiun besar, saya menyempatkan diri untuk membeli makanan berat yang akan disantap di tempat atau nanti di atas kereta.
Ada hal menarik yang membedakan tenant makanan di stasiun dengan yang berada di luar, meskipun berasal dari franchise yang sama. Setiap kali saya akan memesan, sang kasir selalu memulai dengan sapaan ramah, lalu bertanya, “Keretanya apa, Pak?”
Saya pun menyebutkan nama kereta yang akan saya tumpangi. Setelah itu, kasir akan dengan sigap menghitung dan memberi tahu apakah waktu keberangkatan saya masih cukup untuk menunggu pesanan yang telah saya pesan.
SOP yang Lahir dari Pengalaman
Sepertinya pertanyaan tersebut memang sudah menjadi bagian dari SOP bagi tenant itu, khususnya untuk setiap calon penumpang kereta yang akan memesan makanan.
Sebelum lanjut, jangan lupa, seduh cokelat panasnya dulu dan nikmati.

Memang agak sedikit membuat cemas ketika kereta yang akan kita tumpangi sudah tiba, sementara makanan yang kita pesan masih perlu sekitar sepuluh menit lagi untuk disajikan. Dalam situasi seperti itu, muncul pertanyaan: apakah kita bisa membatalkan pesanan yang sudah dibuat, atau harus rela meninggalkannya begitu saja demi mengejar kereta di peron?
Untuk memitigasi risiko semacam itu, kasir di tenant tersebut menerapkan SOP dengan pertanyaan sederhana tadi — “Keretanya apa, Pak?” — agar pesanan dapat disesuaikan dengan waktu keberangkatan pelanggan.
Pelayanan yang Lebih dari Sekadar Produk
Kalau kita pikir sejenak, pertanyaan itu memang terdengar sepele dan sederhana. Namun bila dicermati lebih dalam, tenant ini sebenarnya sedang memberikan layanan yang tidak hanya berfokus pada ragam dan rasa makanan yang disajikan, tetapi juga pada cara mereka melayani pelanggan.
Dengan mengetahui waktu keberangkatan pelanggan, para juru masak di dapur tidak perlu tergesa-gesa dalam mengolah pesanan. Mereka tetap bisa menjaga waktu ideal agar makanan tetap nikmat dan lezat saat disajikan. Sebaliknya, pelanggan pun bisa menikmati makanannya dengan tenang tanpa harus terus-menerus melirik jam karena takut tertinggal kereta.
O ya, sebelum lanjut, jangan lupa dong mampir ke blog saya yang lain ya,
Ada Tips Manajemen dan Buku Manajemen.
Customer Focus dan Keselarasan Proses
Dalam dunia organisasi, sebuah pertanyaan sederhana yang disampaikan oleh seorang frontliner dalam bisnis justru menunjukkan bahwa organisasi tersebut memiliki kekuatan dalam hal customer focus.
Organisasi yang berorientasi pada pelanggan tidak hanya fokus pada produk yang ditawarkan, tetapi juga memahami kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan produk atau layanan itu kepada pelanggan. Ada kalanya pelanggan sebenarnya membutuhkan produk kita, namun karena waktunya tidak sesuai, akhirnya tampak seolah mereka tidak tertarik atau tidak membutuhkan.
Seorang kasir di tenant, misalnya, tidak serta-merta mengatakan bahwa pesanan membutuhkan waktu 20 menit tanpa memahami kenyataan di lapangan. Ia tahu betul bahwa waktu itu memang realistis dan sesuai dengan proses operasional di dapur.
Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara proses internal—dalam hal ini operasional—dengan kebutuhan waktu yang dipahami oleh bagian penjualan. Ketika kedua sisi ini selaras, organisasi mampu memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik, efisien, dan tepat sasaran.
Membangun Reputasi dari Hal Sederhana
Momen yang tampak sederhana ini sebenarnya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan. Mereka bisa menikmati makanan dengan tenang tanpa rasa terburu-buru. Mungkin pelanggan tidak menyadarinya, tetapi di balik pertanyaan sederhana itu, reputasi organisasi sedang dibangun secara perlahan dan konsisten.
Dengan informasi bahwa makanan siap saji membutuhkan waktu sekitar 15 menit, pelanggan dapat memperkirakan waktunya dengan lebih baik—baik untuk menikmati hidangan maupun bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan dinas dan perlu tetap fokus pada keputusan penting selama perjalanan.
Jadi, lain kali ketika Anda bepergian dengan kereta dan kasir tenant bertanya, “Keretanya apa, Pak?”, Anda tidak akan kaget lagi. Di balik pertanyaan itu, ada budaya pelayanan, kesadaran waktu, dan sistem manajemen yang bekerja rapi.
Semarang, 11 Oktober 2025